Kerjasama Kaum Muslim dan Kaum Komunis Pasca-Revolusi Bolshevik 1917: Sebuah Pengantar

Kerjasama Kaum Muslim dan Kaum Komunis Pasca-Revolusi Bolshevik 1917: Sebuah Pengantar

Ben Fowkes Dan Bülent Gökay

Journal of Communist Studies and Transition Politics, Vol. 25, No. 1, Maret 2009, h. 1-31

 

Dengan kemenangan kaum Bolshevik pada Oktober 1917 pilihan-pilihan strategis harus dibuat. Banyak pembaharu Muslim pra-revolusioner, kaum Jadid, berupaya bekerja di bawah naungan sistem Soviet. Hal ini dimungkinkan oleh kebijakan-kebijakan moderat yang dijalankan oleh kaum Bolshevik. Mereka juga menyerukan umat Muslim untuk melibatkan diri dalam suatu jihad melawan penjajahan Barat. Tahun 1920-an merupakan masa emas kerjasama antara kedua pihak.

Di Indonesia, pemberontakan 1926 berilhamkan komunis dan Islam. Namun, kerjasama antara komunisme dan Islam tidak bertahan lama. Setelah kematian Stalin, terbuka jalan bagi pembaruan kerjasama antara gerakan-gerakan komunis dan umat Muslim yang mencapai kesuksesan sementara di Syria, Iraq, Mesir, dan Indonesia, kemudian disusul oleh kudeta-kudeta anti-komunis pada 1960-an. Perang Afghanistan pada 1980-an memaksa partai-partai komunis diasingkan dan merangsang kebangkitan Islam Politik. Runtuhnya Uni Soviet membuat partai-partai komunis terombang-ambing, dengan kebebasan untuk menentukan kebijakan-kebijakan mereka sendiri.

 

Unduh Artikel:

Kerjasama Kaum Muslim dan Kaum Komunis Pasca-Revolusi Bolshevik 1917: Sebuah Pengantar (Terjemahan)

Unholy Alliance Muslims and Communists: An Introduction (Teks Asli)

Mulai Diskusi

Jurnal Sosialis

Terbaru

Kategori

Berlangganan Tulisan

Masukkan alamat surel untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan terbaru kami secara gratis.