Kekuatan Rakyat di Era Kekaisaran

KEKUATAN RAKYAT DI ERA KEKAISARAN

 Arundhati Roy

 

Apa itu kekuatan rakyat? Apa itu kekaisaran? Apa itu Kekuatan rakyat di era kekaisaran? Dengan tiga pertanyaan awal ini, Roy tidak sedang berbicara mengenai masa-masa ‘kekaisaran’ pada zaman dahulu kala. Adalah masa kini, masa dimana kapitalisme menjadi suatu norma, sesuatu yang ‘wajar’ sampai-sampai kita lebih mudah membayangkan akhir dunia dibandingkan dengan akhir dari kapitalisme; masa inilah yang dijadikan sasaran kritik tajam dari Roy.

Dimulai dengan problematisasi dari bagaimana interpretasi masyarakat atas relasi linguistik sarkar (pemerintah) dan public (rakyat) merupakan cerminan dari struktur ekonomi-politik dan kekuasaan yang ada, Roy segera menyasar langsung praktik-praktik penyelenggaraan pemerintahan baik di India, di AS maupun dalam skala global. Ini adalah suatu analisis yang diawali dengan pendekatan linguistik, dikukuhkan dengan fakta materiil yang ada di hadapannya sendiri.

Kritik yang tajam Roy arahkan ke beberapa hal, termasuk dengan apa yang disebut sebagai ‘perang melawan terorisme’ dan faksi-faksi kanan-jauh dalam tubuh masyarakat. Dengan bukti yang ada, ia secara apik membedah logika dua kelompok yang secara permukaan berada pada oposisi diametral, pada nyatanya merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama; suatu logika penindasan yang tak pernah ramah terhadap rakyat.

Berbicara soal keaktualan dari tulisan Roy, kita akan mendapati betapa tulisan Roy ini sangat dekat dengan realitas materiil, bahkan dari kita pembaca yang belum sempat bertemu dengannya. Kritiknya terhadap dialektika-palsu demokrasi voting dalam menentukan siapa presiden yang memimpin suatu negara, dengan cakap dan tajam dia menyatakan:

 

“Tampaknya saja ada pilihan,

namun hanya seperti pilihan merek deterjen.”

 

Sebagai pelampauan dari dialektika-palsu politik praksis, Roy mengajak kita, rakyat, untuk benar-benar melakukan perlawanan, penolakan sejati,

 

“Yang saya maksudkan dengan “menolak” bukanlah cuma

menyatakan ketidaksetujuan, melainkan untuk secara efektif memaksakan

perubahan.”

 

Menjelaskan bagaimana kekaisaran belumlah berakhir, bahkan berlanjut dalam fasenya yang paling mengancam keadilan, Roy mengajak kita semua untuk mewujudkan suatu Globalisasi perlawanan. Tentu saja, ini bukan suatu perkara yang mudah (sebagaimana setiap kita yang terjebak dalam logika moralis berkata). Pada slogan “Dunia yang lain itu mungkin” kita wajib melakukan praksis-praksis dalam berbagai bentuk.

 

Apakah pengorganisasian perlawanan sudah pasti baik? Tidak, jawab Roy. Di bagian akhir dari tulisan, ia melakukan oto-kritik. Bukan hanya dari luar, ancaman terhadap perlawanan bisa datang dari dalam organisasi sendiri, konkretnya, Roy menggulirkan kritik kepada logika LSM:

 

“Dia mengubah konfrontasi menjadi negosiasi. Dia men-depolitisasi

perlawanan. Dia turut campur dalam gerakan-gerakan rakyat lokal yang

secara tradisional telah mandiri.”

 

“Perlawanan riil punya konsekuensi nyata. Dan tanpa gaji.”

 

Unduh:

Kekuatan Rakyat di Era Kekaisaran (Terjemahan)

 

Public Power in the Age of Empire (Teks Asli)

Mulai Diskusi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terbaru

Categories

Berlangganan Tulisan

Masukkan alamat surel untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan terbaru kami secara gratis.